TENTANG NABI MUHAMMAD MASA SEBELUM KENABIAN

Posted: July 30, 2013 in sejarah
Tags: , ,

Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam lahir di Mekkah pada hari Senin, tanggal 12 Rabi’ul Awal tahun gajah (20 April 571 M).[1] Disebut dengan tahun gajah karena pada saat itu terjadi penyerbuan tentara bergajah ke Ka’bah yang dipimpin oleh Abrahah dari Habasyah (Ethiopia).

Adapun nasab (silsilah) beliau adalah sebagai berikut:

  • Dari pihak ayah: Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muthallib bin Hasyim bin Abdu Manaf bin Qushay bin Kilab bin Murrah bin Ka’ab bin Lu’ay bin Ghalib bin Fihr bin Malik bin An-Nadhr bin Kinanah bin Khuzaimah bin Mudrikah bin Ilyas bin Mudhar bin Nizar bin Ma’ad bin Adnan. Adnan adalah keturunan dari Nabi Ismail bin Ibrahim.[1]
  • Dari pihak ibu: Muhammad bin Aminah binti Wahab bin Abdu Manaf bin Zuhrah bin Kilab bin Murrah bin Ka’ab bin Lu’ay bin Ghalib bin Fihr bin Malik bin An-Nadhr bin Kinanah bin Khuzaimah bin Mudrikah bin Ilyas bin Mudhar bin Nizar binMa’ad bin Adnan. Bertemu nasab dengan pihak ayah pada kakeknya yang kelima dari pihak ayah, yaitu Kilab bin Murrah.[1]

Nasab beliau sampai Adnan telah disepakati oleh para ‘ulama dan setelahnya terdapat perbedaan pendapat. Imam Bukhari dalam shahih-nya meriwayatkan nasab Nabi Muhammad hanya sampai kepada Adnan.

Nabi Muhammad masuk dalam suku Quraisy. Terdapat perbedaan pendapat tentang maksud dari kata “Quraisy”. Namun pendapat yang diriwayatkan oleh Ibnu Hisyam menyatakan bahwa sesungguhnya kata “Quraisy” adalah An-Nadhr bin Kinanah.[2]

Beliau lahir dalam keadaan yatim karena ayahnya, Abdullah bin Abdul Muthallib, telah wafat saat beliau berusia kurang lebih tiga bulan di dalam kandungan. Syekh Muhammad Al-Khidri Buck, seorang profesor sejarah Islam, dalam bukunya Nur al-Yaqin Fi Shirat as-Sayyid al-Mursalin mengatakan bahwa beliau lahir di rumah pamannya, Abu Thalib, dan wanita yang membantu  ibunya, Aminah, melahirkan adalah ibu dari Abdurrahman bin Auf. Kakeknya, Abdul Muthallib, memberi nama Muhammad kepada beliau.[3] Arti dari Muhammad adalah “yang terpuji” sama dengan kata “Ahmad”.

Pada zaman tersebut, nama Muhammad adalah suatu nama yang langka (tidak biasa dipakai) di kalangan bangsa Arab. Dalam riwayat disebutkan hanya tiga orang yang memakai nama tersebut, namun ada pula yang meriwayatkan 16 orang. Orang-orang yang menamai anaknya dengan nama itu di zaman tersebut berharap agar kelak anaknya diangkat menjadi nabi, karena mereka telah mendengar akan munculnya seorang nabi dari tanah Arab dengan nama Muhammad. Ketika Abdul Muthallib ditanya mengapa cucunya diberi nama Muhammad, ia berkata: “Aku berharap mudah-mudahan ia menjadi orang yang terpuji di langit pada sisi Allah dan di bumi pada sisi makhluk-Nya.”[1]

Sesuai dengan kebiasaan bangsawan Arab pada masa itu, anak yang lahir akan disusukan kepada orang lain di desa. Demikian pula Nabi Muhammad. Beliau disusukan kepada orang lain setelah tiga hari disusui ibunya. Orang pertama yang menyusi beliau adalah Tsuwaibah, budak pamannya, Abu Lahab, yang sudah merdeka. Beliau disusui oleh Tsuwaibah hanya beberapa hari dan kemudian disusukan dan diasuhkan kepada Halimah binti Abu Zuaib dari dusun Banu Sa’ad.[1]

Kebiasaan bangsawan Arab ini dimaksudkan agar anak mereka tidak tercemari oleh kotornya udara di kota sehingga dapat tumbuh sehat. Selain itu agar dapat berbicara bahasa Arab yang sejati (asli) karena di dusun bahasa yang digunakan belum tercemar oleh bahasa asing.

Nabi Muhammad menghabiskan empat tahun di dusun yang berada di tengah padang pasir bersama dengan pengasuhnya, Halimah. Namun, pada usia dua tahun, beliau pernah diantar kembali kepada ibunya. Tetapi oleh ibunya, Aminah, beliau diserahkan kembali kepada Halimah karena merasa khawatir anaknya akan terganggu penyakit di kota Mekkah. Sehingga beliau kembali diasuh oleh Halimah sampai berumur empat tahun. Pada usia ini beliau telah dapat menggembala kambing bersama anak Halimah.[1][3]

Pada suatu hari saat menggembala kambing bersama dengan anak Halimah, Abdullah namanya, terjadi suatu kejadian yang aneh. Saat itu, Abdullah sedang mengambil bekal makanan ke rumah dan beliau ditinggal sendiri di tempat penggembalaan. Ketika Abdullah kembali ia tidak mendapati Muhammad di tempatnya. Ia melihat Muhammad telah dibawa lari oleh dua orang berpakaian putih dan sedang dibelah dadanya. Lalu Abdullah pulang sambil berteriak minta tolong kepada orang tuanya. Halimah dan suaminya yang mendapat laporan dari anaknya seketika itu juga langsung mencari Muhammad dan menemukannya sedang duduk termenung seorang diri. Beliau ditanya oleh Halimah mengapa di tempat tersebut seorang diri. Lalu beliau menceritakannya: “Mula-mula ada dua orang laki-laki datang dan berpakaian serba putih, lalu mereka mendekatiku dan salah satu di antaranya berkata kepada temannya, ‘Inilah anaknya’. Kemudian temannya menyahut, ‘Ya, inilah dia’. Lalu mereka menangkapku dan membawaku ke sini. Lalu aku dibaringkan dan salah seorang dari mereka memegang tubuhku, kemudian perutku dibelah dengan pisau. Setelah itu mereka mengambil benda hitam dari perutku dan benda itu dibuang. Aku sama sekali tidak tahu benda apakah itu dan ke mana mereka membuangnya. Setelah selesai mereka langsung pergi dan meninggalkanku seorang diri di sini.” Riwayat terbelahnya dada Nabi Muhammad ini terdapat dalam kitab Sunan ad-Darimi dan Musnad Imam Ahmad.[1]

Karena kejadian ini, Halimah dan suaminya merasa cemas dan takut jika kelak terjadi lagi peristiwa seperti ini. Oleh karena itu beliau dikembalikan lagi ke ibunya oleh Halimah dan saat itu berusia lebih dari empat tahun.

Pada saat usia beliau enam tahun, ibunya mengajaknya ke Madinah (Yatsrib) untuk menengok sanak saudara di sana. Beliau juga diajak berziarah ke makam ayahnya dan melihat rumah yang ditempati ayahnya saat sakit. Pada saat kembali ke Mekkah, di suatu tempat bernama Abwa’, Aminah jatuh sakit dan beberapa hari kemudian wafat dan dikuburkan di tempat itu juga. Beliau menjadi yatim piatu dan kembali ke Mekkah bersama dengan budak perempuan peninggalan ayahnya, Ummu Aiman.[1]

Kemudian beliau diasuh oleh Kakeknya, Abdul Muthallib. Namun dua tahun kemudian, ketika beliau berumur 8 tahun, Abdul Muthallib pun wafat dan pengasuhannya dilanjutkan oleh Abu Thalib, paman beliau.

Pada saat usia Nabi Muhammad 12 tahun, Abu Thalib hendak pergi ke Syam untuk berdagang. Sebenarnya ia tidak tega meninggalkan keponakannya yang sangat disayangi itu seorang diri. Namun, menjelang keberangkatan kafilah dagang yang akan diikutinya, Nabi Muhammad datang dan memohon kepada pamannya agar ia diperbolehkan ikut. Karena Abu Thalib sangat sayang kepada beliau, maka ia pun memperbolehkannya ikut ke Syam.[1]

Di negeri Syam, Abu Thalib dan Nabi Muhammad bertemu dengan seorang pendeta Nasrani bernama Bakhira. Pendeta itu berwasiat kepada Abu Thalib agar ia menjaga dan mengawasi keponakannya dengan baik-baik karena anak itu bukan anak sembarangan. Anak itu akan menjadi penutup semua nabi dan rasul dan akan dimusuhi oleh kaum dan bangsanya. Pendeta tersebut berwasiat demikian karena terdapat tanda-tanda kenabian pada diri anak tersebut seperti yang termaktub dalam kitab sucinya. Pendeta itu pun menasihati Abu Thalib agar segera pulang jika telah selesai urusannya di negeri Syam. Karena, jika kaum Yahudi mengetahui tanda-tanda kerasulan pada keponakannya, mereka dapat membunuhnya atau setidaknya menyakitinya. Karena nasihat pendeta tersebut, Abu Thalib selalu merasa cemas saat berdagang, dan keuntungan yang didapatkan pun sedikit karena sangat terburu-buru.[1]

Pada saat usia beliau 15 tahun, ada pula riwayat lain yang mengatakan 20 tahun, beliau mengikuti peperangan antara keluarga keturunan Kinanah dan Quraisy di satu pihak melawan keluarga keturunan Qais di lain pihak. Perang ini berlangsung selama 4 tahun. Para Ulama’ berbeda pendapat tentang apa yang dikerjakan beliau saat perang tersebut. Sebagian mengatakan bahwa beliau hanya mengumpulkan anak panah yang datang dari musuh untuk diserahkan kembali kepada paman-pamannya. Sebagian yang lain mengatakan bahwa beliau turut serta dalam melepaskan anak panah tersebut kepada musuh.

Beberapa tahun kemudian, beliau diangkat sebagai anggota suatu organisasi (majelis) yang didirikan oleh Kaum Qurasiy. Organisasi ini bernama Hilful Fudhul[1] di mana tugas organisasi ini adalah melindungi kaum yang lemah, menentang para tiran dan penindas, dan mengakhiri penindasan. Organisasi ini bertindak sebagai hakim dan polisi bagi masyarakat di kota Mekkah. Karena pada saat itu tidak ada penjaga keamanan di kota Mekkah sehingga banyak sekali penindasan di kota ini. Pada saat menjadi anggota organisasi ini beliau berusia 25 tahun. Diriwayatkan pula, organisasi ini hidup terus hingga masa permulaan Islam.[1]

Pada usia 25 tahun, beliau bekerja di tempat Khadijah binti Khuwailid, seorang janda yang kaya raya. Beliau bekerja sebagai penjual barang dagangan Khadijah ke negeri Syam. Pada saat perjalanan beliau didampingi oleh Maisarah, seorang pelayan Khadijah. Maisarah selalu mengawasi gerak-gerik Nabi Muhammad yang sangat berbeda dengan kebanyakan orang pada saat itu. Pada saat perjalanan ke negeri Syam, ketika sedang beristirahat Nabi Muhammad selalu menyendiri dan tidak berkumpul bersama kawan-kawan kafilah yang lain. Begitu pula ketika sampai Syam, di tempat peristirahatan, beliau tidak berkumpul bersama kawan-kawan kafilah yang lain. Beliau menyendiri dan bernaung di sebuah pohon besar dekat pasar seorang diri. Maisarah yang mengetahui hal itu hanya diam saja, lalu Maisarah pun meninggalkan beliau sebentar ke tempat kenalannya di pasar itu. Ketika Maisarah baru berjalan, ia didatangi oleh seorang pendeta Nasrani bernama Masthura.

Lalu pendeta itu bertanya: “Siapakah pemuda yang duduk di bawah pohon besar itu?”

Maisarah menjawab: “Pemuda itu dari Tanah Haram (Mekkah), ia keturunan Quraisy.”

Pendeta itu bertanya lagi: “Apakah dalam kedua matanya terdapat tanda merah?”

Maisarah menjawab: “Ya.”

Pendeta itu berkata lagi: “Itu dia, dialah penghabisan nabi-nabi Allah.Mudah-mudahan aku nanti dapat mengetahui saat ia diangkat menjadi nabi. Tidak ada seorang pun yang berani berteduh di bawah pohon itu, melainkan dia adalah seorang yang akan menjadi nabi dan pesuruh Allah.”

Kemudian pendeta itu menemui Nabi Muhammad di bawah pohon itu, dan setelah melihat tanda-tanda di wajah beliau, pendeta itu mencium kepala dan kaki beliau dan berkata: “Aku percaya kepada engkau dan aku menyaksikan bahwa  engkaulah yang telah disebutkan Allah dalam Taurat. Ya Muhammad, sesungguhnya aku melihat tanda-tanda kenabian yang ada padamu, sebagaimana yang disebutkan dalam kitab-kitab kuno, hanya tinggal satu tanda yang belum aku lihat, maka bukalah belikatmu sebentar untuk aku lihat.”

Setelah dia melihatnya sebentar, ia berkata: “Aku bersaksi bahwa tiada tuhan melainkan Allah dan aku bersaksi bahwa engkau rasul Allah lagi nabi yang ‘ummy (tidak bisa membaca), yang pernah diberitakan oleh Isa bin Maryam, karena belia pernah berkata, ‘Tidak akan turun pada masa kemudian di bawah pohon ini melainkan seorang nabi yang ‘ummy dan dari bangsa Arab keturunan Hasyim serta berasal dari penduduk Mekkah.’” Riwayat ini berasal dari kitab Sirah al-Halabiyah.[1]

Begitulah kejadian mengherankan di negeri Syam yang kedua kalinya. Kemudian saat menjual barang dagangan di negeri Syam, beliau menjual dengan cara yang berbeda dari pedagang lainnya. Cara beliau berdagang adalah memberitahukan harga pokok dari Khadijah dan keuntungan bagi beliau terserah kepada pembeli. Karenanya, barang dagangan beliau sangat laris dan mendapat keuntungan yang tidak sedikit pula.[1]

Sesampainya di Mekkah, beliau disambut dengan gembira oleh Khadijah dan kagum karena barang dagangannya habis terjual. Selain itu, esok harinya ia juga tercengang ketika mendapatkan laporan dari pembantunya Maisarah yang menceritakan kelakuan dan perbuatan Nabi Muhammad serta kejadian aneh sewaktu beristirahat di pasar. Semua itu menambah rasa cinta Khadijah radhiyallahu’ anha kepada Nabi Muhammad. Namun perasaannya itu masih tersimpan di dalam sanubarinya.[1]

Pada suatu hari Khadijah menyuruh budak perempuannya, Nafisah, untuk menemui Nabi Muhammad di rumah Abu Thalib dengan tujuan menyampaikan perasaannya. Namun, beliau belum mengambil keputusan sebelum mendapat pertimbangan dan keputusan dari pamannya Abu Thalib. Kemudian suatu hari Nafisah menemui Abu Thalib untuk membicarakan hal tersebut.[1]

Pada suatu hari Abu Thalib bersama Nabi Muhammad menemui paman Khadijah Amir bin Al-Asad untuk membicarakan keinginan Khadijah terhadap Nabi Muhammad. Tidak berselang lama, dilangsungkan pernikahan antara Nabi Muhammad bersama Khadijah. Saat itu usia Nabi Muhammad adalah 25 tahun dan Khadijah 40 tahun.Buah dari pernikahan tersebut adalah lahirnya putra dan putri mereka, yaitu Qasim yang wafat saat berusia dua tahun, Zainab yang wafat pada tahun 8 H, Abdullah yang wafat saat masih kecil, Ruqayyah yang wafat pada tahun 2 H, Ummu Kalsum yang wafat pada tahun 9 H, dan Fatimah yang wafat pada tahun 11 H.[1]

Diriwayatkan ketika Nabi Muhammad berusia sekitar 35 tahun, kota Mekkah mengalami banjir besar dan Ka’bah mengalami kerusakan. Pada saat itulah berbagai kabilah kaum Quraisy bekerja sama memperbaiki Ka’bah dengan pembagian pekerjaan yang sangat adil. Nabi Muhammad pun ikut serta dalam perbaikan tersebut. Hingga pada saat tinggal meletakkan Hajar Aswad, terjadi perselisihan tentang siapa yang meletakkan ke tempat semula. Kabilah-kabilah yang ada tidak mau kalah, semua ingin meletakkan batu tersebut ke tempat semula. Setelah mengalami perundingan akhirnya diputuskan bahwa siapa saja yang pertama kali memasuki Masjidil Haram esok hari melalui pintu Bani Syaibah akan menjadi pemutus perkara ini. Ternyata esok harinya Nabi Muhammad lah yang pertama kali memasuki masjid melalui pintu Bani Syaibah. Lalu para pembesar kabilah yang berselisih itu memutuskan bahwa orang yang berhak meletakkan Hajar Aswad ke posisi semula adalah Nabi Muhammad. Nabi Muhammad menerima putusan itu, dan meminta selembar kain. Kain itu dihamparkan lalu beliau meletakkan Hajar Aswad di tengah-tengah kain dan para pembesar Quraisy diajak memegang ujung kain itu dan mengangkatnya ke tempat peletakan Hajar Aswad lalu Nabi Muhammad mengambil batu itu dan meletakkan kembali ke tempatnya. Hal ini diterima oleh kaum Quraisy dengan rasa gembira dan puas atas keputusan itu.[1]

(Wallahu a’lam)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s